Sejarah Singkat Bruder CSA

Kongregasi bruder-bruder Santo Aloysius Gonzaga atau kerap disapa Bruder-Bruder CSA, didirikan di Oudenbosch-Belanda pada tanggal 1 Maret 1840. Dengan pelindung utama Kongregasi yakni Santo Aloysius Gonzaga.

Kongregasi ini didirikan oleh Pastor Willem Hellemons, O’Cist dengan Co Founder Vader Vincentius sebagai bruder pertama yang turut serta dalam mendirikan Kongregasi.

Latar belakang didirikan CSA karena situasi Politik, Sosial, Ekonomi dan pendidikan di Belanda saat itu mengalami kemerosotan. Kaum muda saat itu kehilangan identitas diri, moral apiritual terpuruk. Situasi seperti inilah menggugah Hati Pastor Willem Hellemons untuk mendirikan sebuah lembaga bhakti yang diberi nama Kongregasi bruder-bruder Santo Aloisius/CSA.

22 tahun, setelah CSA didirikan dan mulai berkembang di Negara Kincir angin tersebut, pendiri CSA tergerak hatinya untuk melebarkan sayap karya misi di bumi Nusantra. Dan dia mengutus empat bruder CSA ke Indonesia menggunakan kapal Orthelius. Mereka tiba di Batavia atau sekarang Jakarta pada tanggal 10 April 1862. Kehadiran Bruder-bruder CSA di Nusantara atas undangan Pater Martinus Van Den Elzen, SJ. Keempat Pioner tersebut antara lain: Br. Engelbertus Cranen, Br. Stanislaus van Steen, Br. Antonius van Miert, Br. Felix Roovers

Dalam kurun waktu selama 137 tahun, Perjalanan dan perkembangan Kongerasi Bruder-bruder CSA di Indonesia mengalami pasang surut. Dengan semangat Persaudaraan kasih dan damai serta mengandalkan Tuhan dalam hidupnya, para bruder terus berjuang dan setia mengikuti proses dan pergulatan yang ada, hingga pada tanggal 25 November 1999, CSA Indonesia dinyatakan sebagai Kongregasi Mandiri atau institut otonom berstatus diosesan, dan harus dipanggil “ para bruder Santo Aloisius Gonzaga dari Semarang”.

Bruder CSA Masa Kini

Para Bruder CSA tersebar di beberapa keuskupan di Indonesia, antara lain: Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Surabaya, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Agung Ende, Keuskupan Agung Kupang, dan Keuskupan Sintang

Saat ini dan sejak kongregasi mandiri, CSA terus bergerak dan berbuah. Dalam karya perutusan para bruder bergerak dalam bidang Formal (sekolah), nonformal (asrama dan panti asuhan) bidang pastoral kategorial serta bekerja sama dengan yayasan-yayasan lain di Indonesia, Seperti Yayasan Sosial Sugiyo Pranoto di Semarang, Yayasan Widya Yuwana Madiun, keuskupan Surabaya, Yayasan Bernardus Semarang, Yayasana Persekolahan Katolik Nagekeo-Flores dan lain sebagainya.

Untuk mengenal dan mencintai CSA tentu melalui beberapa tahap atau proses yang harus dan wajib dilewati:

  • Masa Aspiran selama satu tahun bertempat di beberapa komunitas
  • Masa Postulan selama satu tahun bertempat di Kalasan-Yogyakarta
  • Masa Novisiat selama dua tahun bertempat di Kotabaru Yogyakarta. Setelah masa Novisiat jika dinyatakan cakap dan lulus seleksi, maka bruder Novis tersebut mengikrarkan kaul perdana yang disebut profesi.
  • Masa profesi dijalani selama enam tahun bertempat di Komunitas-komunitas sesuai dengan tugas perutusan masing-masing sambil melihat dan terus mengevaluasi diri hingga pada akhirnya mengikrarkan kaul definitif atau kaul seumur hidup.

Proses formasi para bruder CSA tentunya tidak hanya  sampai pada tahap kaul kekal atau kaul seumur hidup, namun para bruder terus dibina dan dibentuk hingga maut memisahkan. Itulah hidup SEJATI dan KEKAL.