“Dikenal sebagai pribadi yang ramah dan peduli pada orang kecil. Selama hidupnya ia terlibat aktif dengan relawan Merapi, mencarikan beasiswa bagi anak yang membutuhkan.”
Tepat tanggal 31 Januari 2022 pukul 21.30 WIB, Br. Siprianus Supriyadi CSA menghembuskan nafas terakhir di RS Karyadi Semarang, setelah melewati masa kritis. Br. Siprianus meninggal dunia pada usia 57 tahun.

Riwayat Hidup
Br. Siprianus CSA lahir di Paroki Wedi, Klaten pada tanggal 27 Februari 1965, anak kedelapan dari 12 bersaudara. Bergabung pada kongregasi bruder CSA sebagai Postulan tahun 1985 dan menerima profesi pertama pada bulan juli tahun 1988. Selanjutnya menerima tugas perutusan pertama di komunitas Turi dengan tugas utama mengurus kebutuhan rumah tangga komunitas. Pada tahun 1990 pindah tugas ke komunitas Boawae, Flores dengan tugas utama mengelola asrama. Setelah dua tahun di Flores, Br. Sipri mendapat tugas baru yakni belajar beternak dan Bertani di KPPT Salatiga, Semarang.
Setelah tujuh tahun menjalani masa yuniorat, pada tahun 1995 Br. Sipri mengikrarkan kaul definitif di Komunitas Madiun. Tahun 2001 sampai tahun 2013 Br. Sipri Kembali mendapat tugas di komunitas Turi, Sleman Yogyakarta dengan tugas utama mengurus rumah tangga komunitas. Sejak tahun 2013 hingga 2020 Br. Sipri pindah ke biara Induk di Semarang dengan tugas membantu bidang liturgi bagian paramenta di wisma lansia harapan asri. Kemudian tahun 2020 hingga 2022 pindah komunitas Tusam untuk memulihkan kesehatannya. Br. Sipri sempat menjalani operasi pengankatan limpa. Tanggal 5 januari 2022 mulai opname di RS Karyadi Semarang dan pada tanggal 26 januari yang lalu menerima sakramen minyak suci. Setelah berjuang melawan penyakitnya, akhirnya tepat tanggal 31 januari 2022 pukul 21.30 Br. Sipri menghembuskan nafas terakhir di RS yang sama.


Misa Requiem
Sebagai bekal rohani perjalanan menuju Rumah Bapa di Sorga, diadakan Ekaristi kudus yang dipersembahkan oleh RD. Florentinus Subono (pastor paroki Banyumanik) bertempat di aula Wisma Lansia Harapan Asri Tusam, Semarang dengan tetap mentaati protokol kesehatan. Dalam homili singkat, Rm. Bono memberi gambaran hidup ini seperti judul lagu “hitam manis pandang tak jemu”, jadi tak jemu-jemu dipandang karena ada sesuatu yang indah, sesuatu yang menarik. Bagi rohaniwan seperti Br. Siprianus pemandangan yang paling indah adalah mengagumi karya-karya Tuhan. Semua yang dikagumi telah tersedia oleh Tuhan sendiri. Memandang karya Allah tentu yang indah dan nyaman, dicecap.
Bagi Br. Sipri secara rohani barangkali ketahanannya dalam menderita sakit karena kekuatannya bukan fokus pada penderitaannya, tetapi fokus pada kekaguman akan kemuliaan Allah. “sejauh yang saya tahu Br. Sipri sudah lama menderita sakit, oh Br. Sipri lagi liburan di komunitas, rumah aslinya di Rumah Sakit, saking kerapnya keluar masuk RS”. Penderitaan yang begitu Panjang dan lama akhirnya setelah ditunggu-tunggu secara khasat mata ada dua. Pertama, menunggu Br. Martin pulang kunjungan ke NTT dan tadi malam Br. Martin pulang, sementara Br. Sipri pergi. Kedua, Br. Sipri menunggu IMLEK. Kenapa tunggu IMLEK to der, pada hal sudah tidak bisa merasakan kue keranjang. Itulah secara khasat mata, tetapi secara rohani saya kira Br. Sipri memang sudah disediakan tempat oleh Tuhan supaya bersama-sama dengan Yesus penderitaanmu sudah cukup dalam melewati masa-masa yang berat dalam kehidupan berat, maka sekarang pulanglah bersama-sama dengan AKU untuk memandang kemuliaan Allah yang mencintai kita dan yang kita cintai pula. Begitulah Br. Sipri sebagai seorang rohaniwan mengagumi kemuliaan Allah dan merasakan kasih-Nya.


Kesan-kesan
Kesan-kesan tentang perjalanan hidup Br. Sipri disampaikan melalui sambutan-sambutan. Sambutan pertama perwakilan keluarga, sambutan kedua oleh pemimpin umum bruder-bruder CSA Indonesia. Sebagai keluarga, bapak Antonius Jarot Nugroho menghaturkan syukur dan terima kasih kepada kongregasi bruder-bruder CSA karena telah menerima Br. Sipri sebagai anggota CSA selama kurang lebih 30 tahun. Kami menyadari bahwa saat ini Br. Siprianus telah lepas bebas dari penderitaannya dan menikmati kebahagiaan bersama para Kudus di Sorga. Lebih lanjut Br. Martin CSA selaku pemimpin bruder-bruder CSA pertama-tama menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran baik secara offline maupun online melalui kanal youtube dalam mendukung dan mendoakan kepergian saudara kami Br. Siprianus CSA mendahului kita. Br. Sipri setelah sekian lama bergulat, bergumul, berjuang melawan sakitnya baik di komunitas maupun di RS akhirnya harus menyerahkan semua usaha manusiawinya kepada Tuhan yang memiliki kehidupannya. Br. Sipri selama hidupnya pasti mengalami pengalaman dikasihi baik dari keluarga, kenalan maupun para bruder dan saat ini kasih itu menjadi penuh dan sempurna Ketika Tuhan Allah menggenapinya untuk memberi kesempatan Br. Sipri agar bisa lebih dekat dengan Allah di kediamannya abadi. Br. Sipri selama bersama kami dalam keluarga besar kongregasi para bruder santo Aloisius terlebih disaat-saat acara kebersamaan dalam komunitas maupun dalam tarekat kerapkali menghadirkan suasana yang membuat gayeng, rileks, akrab, menyaudara dengan kekhasan dirinya itu. Kesediaan diri menerima kunjungan para bruder menjadi kekuatannya dalam menghidupi persaudaraan dalam tarekat. Suasana seperti itu tentu tidak akan kami miliki Kembali. Ketaatan Br. Sipri Ketika diutus berkarya di tempat di komunitas manapun layak kami hargai, ia selalu mengatakan siap dan berusaha semampunya mengemban tugas perutusan tersebut juga perhatiannya kepada saudara-saudara yang berkesusahan entah karena korban bencaba alam mapun keadaan ekonomi dan lain sebagainya, membuat Br. Sipri memberikan perhatian yang lebih diantara kami. Selamat jalan menuju tempat keabadian tanah Sorgawi berjumpa dengan saudara-saudara kita, dengan para bruder kita di Rumah Bapa.
Penulis: Br. Libert Jehadit, CSA











