“Bagi saya yang paling membahagiakan menjadi seorang bruder dan mungkin tidak dimiliki seorang Romo yakni bahwa saya boleh berkotor tangan, boleh terjun di lapangan bersama para murid di sekolah, anak-anak asrama/panti, bapak/ibu di wisma lansia. Semua itu adalah wajah gereja dan kami boleh masuk ke situ lebih luas, lebih leluasa dalam perjumpaan kasih yang menumbuhkan persaudaraan dan penuh damai”.

160 Tahun CSA
Sejarah mencatat bahwa pada tahun 2022 Kongregasi Bruder-bruder Santo Aloisius (CSA) merayakan 160 tahun berkarya di Indonesia. Tidak ada yang istimewa dalam momen penting ini selain Bersyukur dan bangga akan kehadiran CSA di bumi nusantara yang ditandai dengan melakukan napak tilas kongregasi di Surabaya pada tanggal 27 Desember 2022 yang lalu. Napak tilas ini diikuti seluruh pimpinan komunitas dan ekonom komunitas di semua komunitas yang selanjutnya melakukan evaluasi tahunan di Semarang. Berbagai pengalaman dirasakan oleh para bruder seraya mengucap syukur dan terima kasih berlimpah atas pengorbanan dan perjuangan para pioner kala itu (1862 masuk Surabaya) hingga pada tahun 2022 boleh ikut ambil bagian dalam mengembangkan iman umat melalui sekolah-sekolah, asrama dan panti asuhan selama kurun waktu 160 tahun.
Pesta Perak dan Emas Membiara-Natalan Keluarga
Bersamaan dengan itu, kongregasi boleh merayakaan syukur atas 50 tahun hidup membiara dua saudara kita yakni Br. Vincentius Subiyanto CSA, dan Br. Kosmas Mulyadi serta 25 tahun hidup membiara keempat saudara kita yakni Br. Martinus Suparmin CSA, Br. Herman Sesfaot, Br. Yulius Suratno dan Br. Hubertus Thalar. Selain itu kongreasi berinisiatif untuk mengadakan Natalan keluarga bruder se-Jawa dengan mengundang orang tua, adik-kakak, keluarga para bruder yang berasal dari pulau Jawa. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perhatian dan rasa syukur kongregasi atas kerelaan putera-putera terbaik mereka untuk ikut ambil bagian dalam mengembangkan gereja di bumi nusantara.
Keempat peristiwa penting ini, Syukur 160 tahun CSA di Indonesia, pesta perak dan pesta emas hidup membiara para bruder serta Natalan bersama keluarga bruder disatukan dengan Perayaan Ekaristi Kudus pada tanggal 31 Desember 2022 bertempat di Aula Wisma Lansia Harapan Asri Banyumanik-Semarang. Perayaan Ekaristi ini dipersembahkan oleh Vikep Semarang RD. FX. Sugiyana dan RD. Albertus Hesta H.W. (kapelan paroki Banyumanik).

Inti Khotbah
Melalui homilinya, RD. Sugiyana menekankan rasa sukacita, syukur dan terima kasih atas kehadiran para bruder CSA di Indonesia secara khusus di Keuskupan Agung Semarang. “Gereja tidak akan bisa berkembang kalau tidak ada sekolah katolik. Maka perhatian kepada sekolah-sekolah Katolik sebagai tempat munculnya benih panggilan-panggilan imam biarawan/I. Hal demikian sungguh-sungguh dihidupi oleh para bruder ini, artinya para bruder CSA sungguh-sungguh ikut mengawal pertobatan gereja di Jawa secara khusus mulai dari Surabaya. Setelah dari Surabaya karya para bruder meluas ke berbagai kota di Indonesia diantaranya Jakarta, Bandung, Semarang, NTT dan Kalimantan.
Hari ini dalam injil Yohanes dikatakan datanglah seorang yang diutus Allah namanya Yohanes. Kalau boleh saya ganti nama Yohanes adalah Aloisius. Datanglah seorang yang diutus Allah namanya Aloisius atau bruder Aloisius. Mereka menjadi saksi kebenaran atau saksi firman Allah. Firman Allah yang semula tidak terdengar yang tidak menggema di Indonesia tetapi berkat para bruder ini firman itu menggema mulai dari Surabaya dan mulai berkembang ke kota-kota lain. Mendidik iman kristiani kaum muda dan kalau boleh dibilang saat ini firman itu terus hidup sekalipun komunitas para bruder tidak terlalu besar, tetapi mampu merasuk di Lembaga-lembaga gereja di keuskupan-keuskupan Indonesia seperti Yayasan Sosial Sugiyopranoto Semarang (YSS), Yayasan Bernardus, serta tempat karya ini. Lewat karya-karya seperti itulah para bruder terus membawa firman Tuhan supaya menjadi nyata akan keselamatan gereja dan hari ini kita syukuri perjalanan orang-orang yang terus memegang firman ini dalam perjalan waktu 50 tahun dan 25 tahun”. Inilah perkembangan kehadiran para bruder CSA Indonesia.


Sharing Pestawan
Di sela-sela homili singkatnya, Romo Sugi demikian biasa disapa memberi kesempatan kepada salah satu pestawan yakni Br. Martin untuk membagikan pengalaman hidup panggilannya. “Berawal dari seorang guru terpanggil menjadi seorang bruder. Memang aslinya kerinduan saya untuk menjadi seorang bruder bukan romo dan ingin berkarya di Keuskupan sendiri yakni keuskupan Agung Semarang. Dalam perjalanan waktu Tuhan menunjukkan cara tersendiri yang susah ditebak. Mulai dari study, pendamping postulan, pendamping novis, kemudian diminta para bruder untuk menjadi anggota dewan, hingga menjadi pemimpin umum. Bagi saya hal itu diluar dugaan saya dan jauh dari pikiran saya. Ketika saya mendapatkan kesulitan, pusing, stres, selalu teringat dengan motivasi awal menjadi pelayan di keuskupan agung Semarang. Sebagai bruder saya merasa Bahagia, bersyukur, dan dalam perjalanan selalu diteguhkan oleh pengalaman personal dengan Tuhan. Bagi saya yang paling membahagiakan yang mungkin tidak dimiliki seorang Romo yakni bahwa saya boleh berkotor tangan, boleh terjun di lapangan bersama para murid di sekolah, anak-anak asrama/panti, bapak/ibu di wisma lansia. Semua itu adalah gereja atau wajah gereja dan kami boleh masuk ke situ lebih luas, lebih leluasa dalam perjumpaan kasih yang menumbuhkan persaudaraan dan penuh damai”. Demikian sharing Br. Martin CSA, semoga menjadi inspirasi dan memotivasi kita.


Ramah Tamah
Seusai Ekaristi Kudus, acara dilanjutkan dengan pemotongan Tumpeng oleh pemimpin umum CSA, menampilkan beberapa jenis hiburan antara lain; menyanyi, menari serta bagi-bagi door prize serta makan siang bersama. Terselengaraanya acara syukur ini berkat kerja cerdas para panitia, para donatur dan semua yang berkehendak baik. Sekali lagi selamat dan profisiat para bruder. Semoga tetap menjadi berkat bagi siapapun yang dilayani oleh para bruder.
Penulis: Br. Libert Jehadit, CSA











