(PEKAN KAUL BERSAMA ANTAR RELIGIUS)
Kursus Gabungan Novis atau KGN Rayon Yogyakarta Kembali mengadakan pertemuan bersama dari tanggal 1 hingga 6 Mei 2022 bertempat di Syantikara. KGN kali ini mendalami bersama arti pentingnya pemahalam, penghayatan dan mengejawantah tri kaul hidup membiara. Peserta yang hadir berjumlah 44 orang, terdiri dari 12 tarekat religius; lima tarekat pria (CSA, FIC, FICP, MTB, OMI) dan tujuh tarekat Wanita (AK, BKK, CB, MASF, PBHK, MC, SJD). Narasumber dari kegiatan ini adalah internal formator KGN, artinya tidak mengundang khusus narasumber dari luar kecuali pada hari kedua ada satu sesi yang menghadirkan satu pasangan suami istri memberikan kesaksian tentang kehidupan berkeluarga. Tujuan diadakan pekan kaul bersama (PKB) ini adalah 1) Untuk mengolah secara bersama formandi atau calon religius dengan materi-materi yang disiapkan oleh setiap tarekat sehingga mampu menghayati kaul-kaul dengan baik, 2) Membantu para Novis untuk mempersiapkan diri mengkirarkan kaul sementara, 3) Menjalin relasi dan kerja sama antar kongregasi dalam membangun kerajaan Allah, 4) Para formandi semakin berkembang dalam mengolah dan mengenal dirinya, 5) Saling meneguhkan dan saling menguatkan antar calon religius (para novis), 6) Agar para novis mengalami hidup bersama antar kongregasi dengan berbagai dinamika dan kekayaan masing-masing.


Metode yang dibuat dan dilakukan selama PKB ini adalah diskusi antara formandi dengan materi kaul/paper yang disiapkan oleh mereka sendiri. Dari paper yang disiapkan, mereka buat ekspresi sesuai penghayatan dan pengalaman konkret di masing-masing komunitas. Lebih mendalam lagi ketika materi/paper yang disiapkan dipresentasi dan saling menguatkan dengan berbagai penegasan yang ditemukan. Mereka begitu kritis dan jeli melihat fenomena penghayatan kaul para religius jaman ini. Dengan demikian maka para formandi sungguh-sungguh dipersiapkan menjadi religius yang berkualitas dan kredibel.
Reaksi para formandi selama mengikuti Pekan Kaul Bersama ini adalah semangat untuk belajar, antusias, terdukung dan sangat membantu, serta berdiscernment akan cara hidup yang telah dipilih dan ditentukannya. Selain itu mereka selalu merindukan pertemuan seperti ini dan biasanya selalu membawa perubahan dalam hidup mereka.
Perasaan para formandi selama mengikuti PKB adalah senang, gembira, bahagia, antusias karena bisa berjumpa dengan teman-teman dari berbagai tarekat secara offline. Selain itu muncul perasaan deg-degan terlebih saat menyampaikan materi dihadapan teman-teman.


Menurut mereka sesi yang paling berkesan adalah ketika mendalami kaul kemurnian yang disampaikan oleh para suster Novis PBHK, karena sesuai dengan pengalaman yang pernah dialami sebelum masuk biara. Materi yang diberikan sungguh-sungguh mengena dan konkret dialami dalam kehidupan selama ini. Sesi yang paling berkesan lainnya adalah ketika peserta diberi kesempatan bertanya dan mendiskusikan tentang materi kaul-kaul yang didalami itu. Selain itu saat sharing hidup religius dari para formator dan sharing keluarga pasangan mas Mono dan mbak Atik. Mengapa? Karena mengangkat pengalaman konkret yang dialami dan dirasakan selama ini sesuai pilihan masing-masing. Dari pengalaman itu akhirnya kami mampu memilah-milah mana yang baik, tepat dan bisa dilakukan dalam kehidupan kedepannya.
Pengalaman yang didapat waktu sesi kesaksian pasangan suami istri, Mas Mono dan mbak Atik adalah belajar konsisten dengan komitmen yang dibuat. Hidup itu sebuah pilihan dan setiap pilihan ada resiko dan konsekuensi masing-masing maka dijalani dengan rasa syukur dan penuh sukacita. Dalam sharing Pasutri, mereka menegaskan bahwa panggilan keluarga membutuhkan kesetiaan dan komitmen baik dalam suka maupun duka. Manajemen konflik sangat penting untuk mengelola perasaan. Adanya keterbukaan dalam mengelola keuangan.
Menurut Mbak Atik, salah satu cara atau bentuk merawat dan memeluk komitmen yakni saling percaya , saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Ungkap guru agama Katolik ini dengan Mantap. Sedangkan mas Mono, sebagai suami harus jujur dan tekun membeaya kebutuhan keluarga. Menurut alumni YKPN Yogyakarta ini yang belum bisa diubah dalam hidup berkeluarga adalah ketika mengembangkan hobby yang kadang-kadang lupa waktu untuk keluarga. Namun puji Tuhan sampai saat ini bisa diatasi. Kata penyuka pemelihara burung- burung langka ini dengan tegas. Selain itu mbak Atik merasa bahwa panggilan keluarga tidak kalah jauh berbeda dengan panggilan religius yakni menuntut kesetiaan janji dalam ketiga kaul. Dia memberi pesan, jangan hanya lihat hidup keluarga yang indah dan baik-baik saja sebab banyak juga pemgalaman jatuh bangun untuk menyesuaikan hati satu sama lain.
Langkah-langkah konkret yang akan dibuat oleh para pendamping/magister-magistra setelah PKB antara lain; 1) Berusaha dijalankan/diaplikasikan di kongregasi masing-masing dengan baik, 2) Selalu dan tetap mendampingi para Novis dengan mengajak mereka mengendap secara pribadi seluruh pengalaman yang didapat selama ini, 3) Berusaha menemukan bentuk-bentuk atau nilai-nilai hidup yang akan dikembangkan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari di komunitas masing-masing, 4) Mengevaluasi diri perjalanan selama setahun ini demi mempersiapkan diri pengikraran kaul sementara.

Pesan untuk para formandi;
- Kaul tidak hanya sekadar pengetahuan tetapi diinternalisasikan/dibatinkan dan yang paling penting adalah dilaksanakan menurut konteks masing-masing saat ini, entah sebagai novis, yunior, medior atau senior (Rm. Rukmono, OMI)
- Menumbuhkan semangat dalam belajar bersama antar tarekat, jangan takut jangan kwatir, tetap menjaga komunikasi, saling percaya dan saling meneguhkan, serta rayakanlah kebersamaan ini dengan penuh sukacita dan terus bersyukur (Sr. Ima, AK)
- Semoga pilihan ini tepat bagi Anda dan Anda Bahagia (Br. Stef FICP)
Setelah PKB ini para Novis diajak untuk semakin memperbiki hidup doa hidup bersama dan hidup kerasulan. Intinya adalah mengitegrasikan nilai-nilai yang didapat selama PKB dikonkretkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu sebagai pribadi terpanggil semakin mempertegas akan pilihan yang ditentukan ini, berusaha menghayati, menjalani atau mengejawantah kaul-kaul yang akan diikrarkan dengan benar. Hidup doa adalah kekuatan mendasar dalam penghayatan tri kaul.
Sebagai bentuk impelemtasi konkret penghayatan tri kaul, maka sehari sebelum penutupan PKB, para novis dibagi beberapa kelompok lalu dibawa ke beberapa komunitas di Yogyakarta, antara lain Novisiat MTB, CB dan OMI. Di sana mereka belajar masak bersama, doa bersama dan makan bersama. Kaul bukan hanya dipahami, dipelajari, dihayati namun dipraktekkan. Semoga membuahkan hasil dan menginspirasi bagi perkembangan panggilan yang dijalani kedepannya. Satu kata untuk PKB tahun ini adalah; Fantastik, seru, bahagia, keren, menambah wawasan dan lain sebagainya.
Penulis: Br. Libert Jehadit, CSA











