Perayaan Syukur 26 Tahun Kemandirian Bruder CSA Semarang Meriah dan Penuh Sukacita

Semarang, 25 November 2025 — Kongregasi bruder-bruder Santo Aloisius Gonzaga Semarang, atau kerap disapa Bruder CSA kembali menggelar Perayaan Syukur dalam rangka memperingati 26 Tahun Kemandirian Bruder CSA Semarang, sekaligus merayakan 40 tahun dan 25 tahun hidup membiara. Br. Yakobus merayakan 40 tahun hidup membiara, sementara tiga bruder lain, Br. Bayu, Br. Dion dan Br. Albert merayakan 25 Tahun hidup membiara.  Perayaan Syukur ini diselenggarakan di Aula Wisma Lansia Harapan Asri, Banyumanik, Semarang, dan berlangsung penuh kehangatan serta kekeluargaan.

Acara dibuka dengan Perayaan Ekaristi sebagai puncak ungkapan syukur kepada Tuhan atas perjalanan panjang karya dan pelayanan para bruder CSA di Di dunia secara khusus di Indonesia. Perayaan Ekaristi dipimpin secara konseleberan. RD Yohanes Baptista Ruddy Hardono (Vikep Semarang), sebagai selebran utama, didampingi RD. Christophorus Tri Wahyono Djati Nugroho dan RD. Stephanus Suratman Gitowiratmo.

Dalam homilinya, RD. Ruddy, mengajak seluruh para bruder dan umat yang hadir untuk selalu menyadari akan kehadiran dan tuntunan Tuhan disetiap perjalanan hidup ini seraya terus memupuk semangat panggilan, menghidupi nilai-nilai kesederhanaan, pelayanan, serta kasih kepada sesama, khususnya kaum kecil, miskin, dan tersingkir. “Iman itu bukan sesuatu yang tinggal dalam diskus-diskusi, buku-buku yang bagus dan menarik atau forum-forum tertentu. Iman mestinya diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan penuh kasih.” Tegas Romo Ruddy.

Perayaan Syukur 26 Tahun Kemandirian Bruder CSA Semarang Meriah dan Penuh Sukacita

Sambutan pertama dari yubilaris diwakili Br. Bayu CSA, sementara sambutan kedua dari Br. Konradus Samsari CSA, selaku bruder pemimpin Umum. Dalam sambutan singkatnya, Br. Bayu menyadari bahwa 25 tahun bukan waktu yang sebentar. Dalam konteks hidup membiara, 25 tahun merupakan waktu untuk belajar arti ketaatan, kemiskinan, dan kemurnian secara penuh. Sebagai bruder CSA tiga nasihat injil mesti menjadi milik seraya  dihidupi secara terus menerus  yang pada akhirnya mengalami banyak sukacita, tapi juga terus belajar untuk setia, dan belajar bangkit saat mengalami krisis. Iman itu perlu berkembang dan tumbuh, bahkan melalui saat-saat krisis. Mengalami krisis adalah cara yg diperlukan untuk tumbuh.  Tegas Br. Bayu.

Sementara itu Br. Konrad CSA, dalam sambutannya merivew Kembali perjalanan CSA hingga menjadi kongregasi mandiri. 26 tahun yang lalu, pada tanggal 25 November 1999, Kongregasi Institut-Institut Hidup Bakti dan Sosietas-Sosietas Hidup Apostolis di Vatikan, Romo mengeluarkan dekrit yang menyatakan memisahkan Kongregasi Bruder CSA di Indonesia dari Kongregasi Bruder CSA di Belanda. Dan Kongregasi Bruder CSA Indonesia disebut “Para Bruder Santo Aloisius Gonzaga dari Semarang”, berstatus kongregasi diosesan dalam reksa pastoral Keuskupan Agung Semarang. Latar belakang kemandirian adalah kenyataan bahwa semenjak tahun 1975 di Belanda tidak ada lagi calon-calon Bruder CSA; yang menyebabkan Bruder CSA di Belanda kesulitan mendapatkan tambahan anggota untuk meneruskan dan mempertahankan karya kongregasi. Sementara di Indonesia masih ada calon-calon bruder CSA. Saat ini Bruder CSA di Belanda ada 3 bruder, dengan usia termuda 75 tahun dan di Indonesia ada 60 orang bruder. Untuk itu saya mengajak para pemuda katolik menjadi bruder CSA, guna meneruskan pelayanan dan pengelolaan karya bruder CSA yang terbentang di Semarang (4 bruderan), di Yogyakarta (3 bruderan) di Madiun, Kenjeran, di Flores (3 bruderan), di Kupang dan Sintang. Bapak Ibu, Saudara/i dapat mempromosikan kami Bruder CSA agar semakin banyak pemuda katolik yang tergerak hatinya untuk menjawabi panggilan Tuhan menjadi Bruder CSA.

Refleksi Singkat Pestawan

Perjalanan selama 40 tahun dan 25 tahun tentu bukan sesuatu yang mudah dan menyenangkan. Berbagai situasi dan kondisi dapat membentuk sekaligus mendewasakan hidup seseorang, termasuk keempat pestawan. Berikut ini dua dari empat bruder pestawan memberikan kesaksian sekaligus refleksi singkat mereka.

Dua puluh lima tahun hidup membiara adalah ziarah kasih yang ditempa dalam keheningan, pelayanan, dan kesetiaan kecil setiap hari. Dalam perjalanan ini, saya mengalami kebenaran sabda sebagaimana yang disampailan oleh Rasul Paulus: “Ia tetap setia, karena Ia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2Tim 2:13).  Kesetiaan Tuhan menjadi cahaya yang menuntun setiap langkahku, terutama ketika hati rapuh atau jalan terasa sunyi. Kesetiaan bukan sekadar bertahan, tetapi sebuah penyerahan diri penuh cinta seperti yang diajarkan dalam dokumen gereja Vita Consecrata: bahwa hidup bakti adalah memori hidup akan cara Yesus hidup. Melalui doa, perutusan, dan kehadiran di tngah masyarakat, Tuhan berkali-kali membuktikan bahwa cinta-Nya tidak pernah berkurang, dan harapan kepada-Nya tidak pernah sia-sia. Kesetiaan juga sangat indah dilukiskan oleh Pemazmur dalam Mazmur 126:5-6 ; Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Cucuran air mata menjadi simbol kesetiaanku untuk terus menjadi obor pemberi pengharapan kepada semua orang dimanapun aku di tugaskan. (Br. Dion CSA)

Saya berterima kasih pada tarekat yang memberikan waktu untuk retret pribadi di Gedono beberapa waktu lalu. Keheningan di pertapaan Gedono menjadi oase dan membantu saya untuk melihat kembali perjalanan selama ini dg jernih. Dalam keheningan saya menemukan bahwa perjalanan sejauh ini “tak dapat saya jalani sendirian”. Ada banyak orang yg terlibat dalam hidup panggilan saya. Perayaan hari ini semakin menguatkan saya bahwa sejak semula saya tidak bisa jalan sendiri. Ada keluarga dan sahabat yang mendukung dan mendoakan. Ada rekan bruder sekomunitas yang menjadi teman dalam berjalan dan berjuang bersama, ada tarekat yang membimbing dan mengayomi, dan ada Tuhan yg memanggil dan mencintai. Terima  kasih untuk semua orang yang telah terlibat dalam hidup panggilan saya. Melalui mereka, Tuhan menyatakan Rahmat, cinta, dan penyertaanNya. Perjalanan kami masih panjang, mohon doa untuk perjalanan dan perjuangan kami selanjutnya. (Br. Bayu)

Ramah Tamah

Usai Ekaristi, acara dilanjutkan dengan berbagai hiburan menarik yang dipersembahkan oleh perwakilan para karyawan Wisma Lansia Harapan Asri, penghuni lansia serta para Bruder yang hadir. Suasana keakraban sangat terasa ketika seluruh peserta larut dalam kegembiraan, menyaksikan pentas seni yang kreatif serta ramah jiwa.

Melalui perayaan syukur ini, Bruder CSA Semarang meneguhkan kembali komitmen dalam panggilan hidup membiara yang telah dijalani. Semangat untuk terus berkarya dalam pelayanan kepada Gereja dan masyarakat menjadi harapan baru untuk perjalanan tahun-tahun berikutnya.

Semoga rahmat Tuhan senantiasa menyertai para Bruder CSA dalam melanjutkan misi kasih, peduli dan berhati murni, sesuai semangat hidup Santo Aloisius Gonzaga. Salam PKD, Tuhan memberkati.


Penulis: Br. Libert Jehadit, CSA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *